Tak Mau Mengemis, Begini Perjuangan Kakek Buta dan Cucunya



Mengalami kebutaan tak membuat Lukman (65) patah semangat menyambung hidup. Bersama Fatur (12), cucunya yang duduk di bangku kelas 6 SD Pannara, Makassar, ia berjualan cemilan keliling Makassar. 

Setiap hari mereka berangkat dari rumah sederhananya di Jalan Pannara, Kec Manggala, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Mereka menyisir kantor dinas pemerintahan di Kota Makassar menawarkan jualan cemilannya.

Lukman baru berjualan pada siang hari setelah cucunya pulang dari sekolah. "Cucuku sebagai penunjuk jalan. Setelah jualan habis kami pulang ke rumah sambil saya menanti adanya panggilan untuk memijat dari orang kembali," ucap Lukman, Rabu (2/3/2016).

Ia memilih jalan hidup dengan berjualan meski untungnya tidak seberapa. Dia menilai itu lebih mulia dibandingkan memberi makan keluarganya dengan jalan mengemis di jalanan.

"Saya tinggal bersama 5 orang anak dan seorang cucu keponakan. Alhamdulillah, semuanya sekolah meski kadang anak-anak ikut tetangga kerja jadi buruh bangunan," kata dia.

Lukman menjual beragam cemilan seperti jagung dan kerupuk jintan selama 7 tahun. Sebelumnya, ia berjualan sendiri dengan menggunakan tongkat sebagai penunjuk jalan. 

Dia mengalami kebutaan itu sejak masih duduk di bangku kelas 6 SD karena serangan sakit cacar. Meski demikian dia bertekad tak mau mengemis belas kasihan. 

"Saya tak ingin menjadi orang tak berguna sehingga harus berusaha sendiri memenuhi hidup di tengah peliknya ekonomi saat ini," kata dia. 

Sementara itu Fatur menyatakan tak pernah malu jika dilihat temannya ketika menggandeng kakeknya menawarkan cemilan dari kantor ke kantor. 

"Kenapa mau malu kak? Saya senang mengantar kakek berjualan, tapi nanti setelah pulang dari sekolah," kata Fatur. 

Saat ditemui Liputan6.com, dia tampak masih menggunakan pakaian sekolah saat menawarkan cemilan kepada anggota DPRD Makassar asal fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Azis Namu, Rabu (2/3/2016).

Selama menemani kakeknya berjualan, Fatur mengatakan cemilannya selalu laku terjual. Kalau di kantor biasanya orang membeli di atas satu bungkus. 

"Kalau sudah sore kami sudah pulang ke rumah. Besoknya kembali berjualan," kata Fatur.

Sumber : regional.liputan6.com

Subscribe to receive free email updates: